“Pesantren Ramadan” Sebagai Momentum Bermuhasabah dan Perbaikan Diri

PRAMBANAN – Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa untuk meningkatkan keimanan, menambah wawasan ilmu, serta menumbuhkan rasa kebersamaan. Berangkat dari semangat tersebut, SMK Muhammadiyah 1 Prambanan – Klaten menyelenggarakan kegiatan Pesantren Ramadan bertajuk “Menjadikan Ramadan Sebagai Sarana Bermuhasabah dan Perbaikan Diri”.

Kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari, mulai Kamis (12/3) hingga Sabtu (14/3). Adapun rangkaian kegiatan yang diselenggarakan meliputi agenda pesantren kilat, sosialisasi pendidikan dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), serta kajian dan buka puasa bersama.

Rangkaian kegiatan ini dibuka dengan kegiatan pada hari pertama, yaitu kegiatan pesantren kilat. Kegiatan secara resmi dibuka melalui sambutan dari Kepala SMK Muhammadiyah 1 Prambanan – Klaten, Septiani Yulian Herwindha, S.E. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas ibadah.

Agenda pesantren kilat dilaksanakan pada dua hari pertama dengan beberapa rangkaian kegiatan, yaitu Shalat Dhuha berjamaah, tadarus Al-Quran, dan pemaparan materi keagamaan. Melalui rangkaian kegiatan selama tiga hari ini, para murid diajak untuk memperdalam pemahaman keagamaan sekaligus memperluas wawasan mengenai pendidikan dan masa depan mereka.

Shalat Dhuha berjamaah dan tadarus Al-Quran

Kegiatan Shalat Dhuha berjamaah dan tadarus Al-Quran menjadi salah satu agenda dalam rangkaian kegiatan pesantren kilat. Kegiatan ini sebenarnya merupakan bagian dari program pembiasaan yang rutin dilaksanakan di SMK Muhammadiyah 1 Prambanan – Klaten. Sedikit berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini murid melaksanakan kegiatan tadarus secara bersama-sama di lapangan dalam sekolah – tepat setelah selesai Shalat Dhuha.

Pelaksanaan tadarus secara bersama-sama ini menghadirkan suasana yang lebih khidmat sekaligus mempererat kebersamaan di antara para murid. Melalui kegiatan ini, sekolah berharap dapat menumbuhkan kedisiplinan dalam beribadah serta mendorong murid untuk semakin dekat dengan kitab suci Al-Quran sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemaparan materi keagamaan

Setelah melaksanakan Shalat Dhuha dan tadarus, para murid mengikuti sesi pemaparan materi keagamaan di kelas masing-masing. Selama dua hari pelaksanaan pesantren kilat, materi dibagi ke dalam empat pokok bahasan, yaitu thaharah, shalat fardhu, shalat jenazah, dan akhlak. Keempat pokok bahasan ini menjadi hal yang penting dipahami oleh murid, mengingat praktik-praktiknya sangat dekat dengan mereka.

Penyampaian materi-materi tersebut tidak hanya dilakukan secara teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan praktik pelaksanaannya, khususnya pada materi shalat fardhu dan shalat jenazah. Praktik shalat yang baik dan benar menjadi hal yang sangat penting karena berkaitan dengan sah atau tidaknya pelaksanaan shalat tersebut. Selain dimaksudkan untuk menambah wawasan, adanya pemaparan materi ini juga sangat bermakna sebagai momentum untuk refleksi bagi para murid dan memperbaiki diri.

Sosialisasi pendidikan dari UMBY

Selain kegiatan keagamaan, para murid juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sosialisasi pendidikan di UMBY. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada para murid mengenai gambaran dunia perkuliahan, program studi yang tersedia, serta berbagai peluang yang dapat ditempuh setelah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Melalui kegiatan ini, diharapkan para murid dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai pilihan pendidikan mereka di masa depan. Mereka juga tampak antusias dalam mengikuti kegiatan ini karena pihak kampus menyediakan doorprize bagi para murid yang aktif bertanya dan berdiskusi.

Kajian dan buka bersama

Rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan diakhiri dengan agenda kajian keagamaan dan buka bersama. Kajian keagamaan kali ini diisi oleh Ustadz Fadel, S.Pd. seorang guru dari SMA Taruna Muhammadiyah Gunungpring Muntilan Magelang. Adapun materi kajian yang dipaparkan berkaitan dengan nikmat Allah SWT di bulan Ramadan, termasuk mengenai keutamaan berpuasa, membaca Al-Quran, dan adab dalam berdoa.

“Kita berusaha untuk memahami bahasa dalam ayat-ayat Al-Quran, salah satunya ayat mengenai perintah berpuasa, yaitu pada Q.S. Al-Baqarah ayat 183-185. Ayat 185 menekankan perintah berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” papar Ustadz Fadel dalam kajiannya. Adapun makna takwa di sini adalah menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun demikian, dalam hal ibadah puasa ini terdapat beberapa golongan yang mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa, yaitu orang sakit, musafir (orang dalam perjalanan), lansia, ibu hamil, serta orang yang tidak berakal.

Selepas menyimak kajian dari Ustadz Fadel, S.Pd., kegiatan dilanjutkan dengan buka bersama dan Shalat Tarawih berjamaah. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga sekolah. Para murid juga tampak bersemangat dalam menjalankan ibadah Shalat Tarawih berjamaah di malam ke-26 Ramadan ini. Hal tersebut terlihat dari penuhnya shaf shalat yang terselenggara di halaman dalam sekolah. Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai penutup dari rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan tahun ini.

Melalui rangkaian kegiatan Pesantren Ramadan ini, diharapkan para murid tidak hanya memperoleh tambahan ilmu keagamaan, tetapi juga mampu menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana kutipan khutbah dari Drs. H. Sukardi, M.Pd. selaku Penasihat Kepala Sekolah, pada momen menjelang Shalat Tarawih bahwa “Sebaik-baik diri kita, masih ada orang lain yang lebih baik. Seburuk-buruk orang lain, masih lebih buruk diri kita”.

Kutipan tersebut menjadi pengingat bagi kita untuk bersikap rendah hati dan tidak mudah menghakimi orang lain. Kalimat “Sebaik-baik diri kita, masih ada orang lain yang lebih baik” mengingatkan bahwa sebesar apa pun kebaikan yang kita miliki, selalu ada orang lain yang mungkin memiliki keutamaan lebih. Oleh karena itu, seseorang tidak seharusnya merasa paling baik atau paling benar.

Sementara itu, bagian “Seburuk-buruk orang lain, bisa jadi masih lebih buruk diri kita” mengandung pesan agar kita tidak mudah merendahkan atau menilai buruk orang lain. Bisa saja kita belum mengetahui kekurangan dalam diri sendiri. Karena itu, manusia dianjurkan untuk lebih banyak bermuhasabah (introspeksi diri), memperbaiki akhlak, serta menjaga sikap agar tetap rendah hati dalam berinteraksi dengan sesama.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *